Sabtu, 06 Juni 2015

terter

“ Mengasah Pisau Cukur “  Karya :  Hanindawan
        Adalah Pak Emon, seorang tua yang berprofesi sebagai Tukang Cukur keliling yang memilih berteduh dibawah pohon untuk menjalankan usahanya tsb. Namun menurut penuturan Pak Emon sendiri, pohon – pohon tempat ia berteduh selalu saja ditumbangkan dengan berbagai alasan. Sehingga Pak Emon harus mencari pohon – pohon yang lain yang bisa ia jadikan tempat berteduh. Hingga ia menemukan sebuah tempat yang ia anggap sebagai tempat terakhirnya. Disana ia juga menanam pohon sendiri yang ia anggap miliknya dan tak ada seorangpun yang bisa menebangnya. Ternyata, Pak Emon juga menyimpan semua cerita memilukan selama hidupnya menjadi orang yang selalu terusir karena penebangan – penebangan pohon tempat ia berteduh. Dendampun menjadi satu – satunya alasan yang membuat ia selalu menunggu seseorang, laki – laki, yang ia anggap telah membuat dia kehilangan semuanya. Termasuk anak dan istrinya yang meninggal dunia karena sakit dan ia tak mampu membeli obat. Semua laki – laki yang ia jumpai, selalu dalam prasangka dendam Pak Emon. Sering ia mengkhayal ada seorang laki – laki yang datang untuk potong rambut, dan diyakininya bahwa laki – laki itulah yang selalu menebangi pohon – pohon.
Adalah Ifah dan Selamet, yang juga berada ditempat terakhir Pak Emon menanam pohonnya sendiri, yang sudah hafal betul perilaku Pak Emon. Ifah, seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya, yang menyatakan kepedulian pada Pak Emon dengan rela menghidupi Pak emon untuk tetap bertahan hidup. Wanita penjaja gorengan, yang sudah menganggap Pak Emon senagai orang tuanya sendiri. Yang tak rela Pak Emon memendam dendam kesumatnya. Selamet, seorang laki – laki yang membujang karena tak ada satu wanitapun yang mau menjadi pendamping hidupnya. Yang diam – diam juga menyukai Ifah, tetapi tak berani mengungkapkan isi hatinya. Seorang yang terlihat lugu apa adanya ketika berbicara.
Adalah Sopir angkota, yang juga menaruh hati pada Ifah, yang ternyata sudah memiliki anak istri. Rela melakikan apa saja demi mendapatkan pujaan hatinya. Yang ternyata, juga dicurigai Pak Emon sebagai laki – laki penebang pohon – pohon Pak Emon. Hingga suatu saat, Sopir itu tak berdaya menghadapi bujuk rayu Pak Emon untuk duduk di kursi yang sudah ia persiapkan sejak lama. Di atas kursi itulah, Pak emon merasa ia tidak sia – sia menunggu dan selalu mengasah pisau cukurnya hingga tajam. Pisau Cukur, yang ia anggap satu – satunya senjata yang ia anggap mematikan yang hanya dimiliki seorang tukang cukur keliling. Prosesi pembalasan dendam pun sudah begitu rupa dipersiapkan Pak Emon selam bertahun – tahun, hingga ia terlupa bahwa ada orang – orang yang tak rela adanya dendam yang terbalas pada orang yang belum tentu bersalah itu. Dan Pak Emon pun harus kembali tersungkur dibawah pohon rindang itu dengan dendam yang terus membuncah pada setiap laki – laki yang ia anggap sebagai penebang pohon – pohon itu. “ tak ada lagi yang bisa menebang pohon sesuka hatinya “ demikianlah ucapan Pak Emon demi menjaga pohon – pohonnya itu.
Sebuah cerita yang mengulas tentang makna – makna hidup yang multi kompleks dan multi tafsir tersebut. Yang bisa kita dengar dari berbagai sisi kehidupan realita, betapa penggusuran yang terjadi demi sebuah keberpihakan kepentingan. Sehingga banyak korban dari kalangan kecil yang tidak tahu menahu prosedur hukum yang ada. Juga makna dari sisi penebangan – penebangan pohon di hutan yang tanpa didasari ijin yang juga tanpa perhitungan resiko yang akan dihadapi. Sebuah proses kehilangan kita terhadap kawasan hijau yang menjadi sumber kehidupan kita...adalah... POHON.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar