12 Desember 2011
PASAR GABUS (sebuah kenangan tentang “Ruang Publik-Ruang Bermain”)
Kemarin,
saya dan beberapa kawan masuk komplek pasar Gabus setelah sekian lama
hal itu tak pernah saya lakukan. Mungkin didorong oleh kerinduan saya
pada masa kecil ketika pasar itu masih terbuka, belum berdinding tembok
dan menjadi arena bermain anak-anak seusia saya dan mas-mas dan
mbak-mbak saya ke atas.
Di
masyarakat Gabus ada kepercayaan terkait dengan pasar yang akhirnya
menjadi adat istiadat setempat, ada mitos bagi pasangan yang baru
menikah akan melakukan acara keliling pasar sebanyak tiga kali, dan jika
tidak dilakukan yang bersangkutan akan menjadi gila, dan hal ini masih
dilakukan sebagian besar masyarakat Gabus, selain aspek mitos ada aspek
logika sebagai pemberitahuan kepada publik tentang pasangan yang baru
menikah itu, karena pasar salah satu area publik masyarakat Gabus.
Ya,
saya ingat betul masa-masa itu, apapun permainan anak mayoritas kami
lakukan didalam komplek pasar itu, dari olan-olan (sejenis permainan
kelereng), jirak (sejenis permainan karet) gobak sodor, laker,
gangsingan, slentik-an atom, kasti, bahkan main sepak bola (mungkin
sekarang orang menyebutnya futsal) dan masih banyak lagi permainan
teman-teman perempuan seperti seprento, dakon dan bekel yang tentunya
siapapun pernah main di pasar Gabus akan mengingatnya.
Selain
sebagai arena bermain masa kecil di masa saya, pasar itu juga menjadi
Ruang Publik masyarakat Gabus, mulai dari sebagai tempat pemilihan
kepala desa dan pemilu sampai acara tradisional dan arena tempat
kesenian, setiap acara sedekah bumi secara rutin ada acara kesenian
tradisi seperti wayang kulit, ketoprak, barongan dll. Yang sebelumnya
biasanya pada siangnya sebelum wayangan ada bancakan kenduren sedekahan
bersama berebutan nasi tumpeng dan betapa berharganya sebutir telur...
Heeemmmm...
teringat jelas keriuhan dan kebersamaan kala itu, dan wayangpun mulai
dimainkan sampai malam, anak-anak seusiaku dulu biasa keluyuran sampai
malam, main pek-to (petak umpet) dan nimbrung nombok lotre mondok
(dapatnya telur) bahkan dadu kumpul orang dewasa, pokoknya suasananya
menyenangkan dan meriah.
Namun
sesuai perkembangan jaman dan makin bertambahnya para pedagang di pasar
membuat semua itu lambat laun mulai hilang, tak ada lagi lantai pasar
yang lenggang selepas pedagang jualan, pasar sudah tertutup tembok, tak
terdengar lagi keriuhannya radius dua ratus meter, tak ada penjual jamu
dan sulapan, tak bisa lagi anak-anak bermain di lingkup dalam komplek
pasar karena los-los kanan kiri sudah penuh lemari, tak ada berebutan
layangan dan nge-jo benang layangan, tak ada ketoprakan malam lagi, tak
ada lotre mondok dan dadu lagi... dan di sore itu, di pasar yang sama
saya terkenang semua itu, mungkin hal ini dirasakan juga kawan-kawan
seangkatan saya ke atas, yang sekarang masih tersisa adalah barongan
malem jemuwah wage keliling kampung.
Gabus
tempat dimana dulu saya dilahirkan di samping utara pasar menyimpan
banyak kenangan, teringat pagi-pagi di masa saya belum sekolah banyak
mbah-mbah kencing dengan bebasnya berdiri cuma dengan menjinjing kain
jarik (ha ha ha...) pemandangan yang mungkin tak lajim di jaman
sekarang, tukang obral berikut banjetnya, bakul jamu sambi pengobatan
dan sulap, semua berjalan mengalir dan tanpa diburu waktu seperti laju
kehidupan sekarang ini. Kini pasar telah berkembang pesat dan sesak,
jajanan tradisional juga mulai tergantikan makanan pabrik, di sebelah
barat pasar kira-kira seratusan meter telah berdiriminimarket waralaba,
jalan ramai sepeda motor menggantikan dokar sebagai angkot di wilayah
pasar, semoga nadi perekonomian terus berputar dan pasar tradisional
tidak ikut punah seperti hilangnya areal publik tempat bermain saya
dulu, semoga tidak digusur menjadi mall dan supermarket seperti yang
terjadi di kota-kota besar dan tetap menjadi sumber penghasilan
menggerakkan perekonomian masyarakat bawah ...semoga...!!!.
Salam,
Gabus, Jemuwah Pahing 27 Agustus 2010
Lor Pasar Gabus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar