HIKAYAT GULING: Ini bukan soal kambing guling atau tukar guling!
Sekedar untuk diketahui secara diam-diam, ini diantara kita saja, nggak usahlah rahasia ini diceritakan kepada pasangan anda.
Tidak ada salahnya kita mengetahui bagaimana ikhwal guling bisa berada dalam pelukan kita.
History of Guling bisa jadi usianya jauh lebih tua daripada History of Java-nya Sir Thomas Stamford Raffles.
Seperti
pernah diceritakan sastrawan Pramoedja Ananta Toer, guling pertama
kali datang ke Nusantara bersama-sama dengan pelaut Belanda pada masa
VOC.
Gelombang permulaan bangsa Belanda yang masuk ke Nusantara belumlah membawa isteri-isteri mereka.
Sebagai pengganti mereka yang tidur jauh dari isterinya, dibuatlah replika isteri, yang dkenal dengan sebutan Dutch Wife, yang sekarang ini di seantero Indonesia lazim disebut guling.
Saya belum menyelidiki apakah di benua Eropa saat itu sudah ada peradaban guling.
Saya belum menyelidiki apakah di benua Eropa saat itu sudah ada peradaban guling.
Guling jaman itu ukurannya masih gede dan panjang, yah kurang lebih seukuran isteri-isteri mereka.
Tidak seperti jaman sekarang ini, gulingnya kecil-kecil sehingga anak kecilpun ikut-ikutan memeluk guling.
Peninggalan
replika guling jaman dahulu yang segede manusia bisa dilihat di museum
Mulawarman yang merupakan bekas kesultanan Kutai Kartanegara di
Tenggarong Kaltim.
Saya tahu karena pernah empat tahun singgah di kota itu.
Jaman
dahulu keraton sudah disinggahi bangsa-bangsa asing, sehingga
disediakan kamar-kamar untuk mereka, ada kamar khusus untuk bangsa
Eropa, untuk bangsa Cina, untuk bangsa Jepang, dan kamar khusus untuk
bangsa Arab, bangsa pribumi disediakan atau tidak saya sudah lupa,
dengan tempat tidur dan interior kamar mengikuti seni arsitektur
masing-masing bangsa tersebut.
Dugaanku guling ala dutch wife itulah yang menginspirasi keberadaan guling yang sekarang disimpan di museum itu.
Begitulah hikayatnya.
Dutch wife jaman sekarang sudah lebih "hidup" lagi, bisa anda lihat di Wikipedia, di Jepang ada yang mengkreasinya sebagai boneka guling (sex-doll) berpostur perempuan beneran yang lentur dengan segala aksesori dan fungsinya.
Dutch wife jaman sekarang sudah lebih "hidup" lagi, bisa anda lihat di Wikipedia, di Jepang ada yang mengkreasinya sebagai boneka guling (sex-doll) berpostur perempuan beneran yang lentur dengan segala aksesori dan fungsinya.
So,
apabila saat tidur anda diabaikan pasangan anda yang lebih memilih
memeluk guling, wah, itu sudah nyata-nyata serong guling di depan hidung
anda.
Namun nggak usah khawatir.
Selama
yang kudengar, belum ada satupun hakim yang memutus perceraian
mendasarkan pada alasan gugatan cerai karena pasangannya serong dengan
guling.
Atau hanya karena mereka pada tidak tahu riwayatnya ya?
Bisa loh
ke depannya nanti, bila riwayat guling ini sudah diketahui orang
secara meluas, memeluk guling dapat dianggap serong sehingga jadi
alasan perceraian, apalagi yang dipeluk macam guling seperti yang
diceritakan di atas.
Besar
kemungkinan hakim akan mengabulkan gugatan cerai jika karena memeluk
guling itu lalu antara suami isteri timbul percekcokan terus menerus
yang sudah tidak mungkin bisa didamaikan lagi, sehingga tidak akan dapat
hidup rukun sebagai suami isteri, sebagaimana dimaksud pasal 39 UU
Perkawinan.
Tapi apa sampai segitunya ya?
Jadi
saranku -- ini di antara kita saja ya -- demi menjaga kondusivitas
keharmonisan perkawinan anda, buang jauh-jauh itu guling dari kamar
tidur anda. Bilang aja gulingnya digondol koetjing atau diodol-odol goekgoek...
(Agoeng Soelistijono)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar