Selasa, 23 Juni 2015

sembayang



Mereka sembahyang setiap waktu dari subuh hingga subuh lagi , memanjatkan do’a-do’a lama sekali , tapi tak juga merubah perilaku jahatnya , sama sekali tak bisa disanak, diingatkan, tak bisa di dekati apalagi kok diajak ngobrol , ya susah sekali , bahkan yang bikin jengkel itu adalah tidak bisa diajak ngobrol.gengsinya  sebagai orang paling waras dan normal  masih no . satu sehingga nggak mau kalah, apalagi kok kenal. Kata mereka Waktu hidupku sudah habis untuk leha-leha dan lenggang-kangkung karena peri hidupnya terjamin dan dapat di andalkan.Sedangkan mereka yang merasa hidupnya berjuang bekerja keras banting-tulang peras-keringat setengah mati, kepala jadi kaki , kaki jadi kepala, sampai sekarang  setelah matipun  merasa kebiasaannya ngantor dan bekerja merangkai pikiran untuk mafia , dan saling menjegal, menjatuhkan martabat pengikut alam arwah . Mau bepergian susah  sekali karena terikat kontrak bekerja di suatu tempat sepanjang hayat, dunia serasa sama ,bumi yang sama, langit yang sama, semua datar , tak ada tanjakan , dan tak ada turunan, semua sama, mau bicara nggak bisa,mau diam saja salah tingkah, orang-orang di sekitar yang dekat juga tidak ada yang kenal. Berbeda dengan keadaan arwah ibuku yang sukanya pergi jalan-jalan ke kota mekkah , katanya itu di sebut  ibadah haji, menghabiskan uang untuk belanja belanja , menaikkan gengsi social, dan ngrumpi selama berjam-jam, melakukan  ritual itu , semua serba denda dsan sangat memboroskan uang katanya Dam , paling paling setelah pulang hanya mendapat gelar Hajjah saja . arwah ibuku  berangkat haji sendirian  dengan menjual kebun, sawah dan sapi- bapak.sedangkan aku dianggap tidak pantas ikut menunaikan  haji  , karena perbuatanku lebih mirip bangsaat dari pada santri .ibuku suka hidup berpetualang semasa hidupnya , ia pergi ke sawah-sawah lading-hutan mencari kayu , mengumpulkan sampah-sampah daun untuk dibakar dan di jadikan pupuk, katanya , dan diwaktu istirahat di rumah, ia suka ngrunpi membicarakan aku anaknya  sendiri , istriku , anakku, dengan orang –orang sekeliling rumah, apa kebiasaannya itu dibawa –bawa sampai luang-alam Arwah?
Disini aku malas kenalan, kau tidak tahu orang seperti apa yang ada di sekitarku, aku terasing disini, sendiri, bahasaku sendiri tak difahami orang , bahasaku tidak mumpuni untuk ngrumpi seperti mereka, dengan bicara terbahak-bahak, terpingkal-pingkal membicarakan orang lain . ada orang bule , kulit hitam, orang arab , orang cina grumpung, semua  asing bagiku, jadi males bicara,” ujar ibuku . lalu apa yang dikerjakan sehari –hari ?”, tanyaku. Aku sehari hari hanyalah nganggur , tiduran  sambil mendengarkan radio . uang uangan dolar yang kau kirimkan dari Amerika dulu  tidak laku disini, rumah mewah dan makanan enak-enak yang kau kirimkan dari dunia dulu tidak enak dimakan disini, warisan yang ditinggal ayahmu dulu sudah tak ada manfaatnya lagi disini, semenjak aku menghuni alam arwah dan semenjak aku memasuki alam Ghaib, semua sudah tidak ada lagi , semua tidak nyata , pekerjaan yang dijanjikan dengan menyogok untuk jadi pegawe oleh Zubaer dulu juga malah mengakibatkan pecahnya persaudaran,hancurnya sendi-sendi ahlak celaka berat, mengakibatkan berdirinya tembok tinggi dan jurang yang teramat dalam rentang jarak dan sakit hati. Kebun  mangga yang penuh buah dan harganya selangit dulu juga tak lagi ada manfaatnya, karena harganya dan biaya perawatannya tidak sebanding,kjadang-kadang membusuk sendiri di pohonya semua  seperti mimpi,berlalu begitu saja, tidak berbekas, semua hanya kenangan, semua terjadi terlalu singkat, aku hanya merasakan sebentar, aku hanya sebentar sejenak tinggal disitu,lalu kemudian pergi lagi tidak sampai setahun rasanya , aku kesepiansekali, begitu kalian memasuki alam arwah. Memang waktu itu aku bangga tinggal di rumah mewah itu, semula aku senang sekali tinggal dirumah itu, semua perabot ada , pembantu ada , kebunnya luas dengan kolam ikan di depan rumah, ada ayamnya di situ .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar