Mereka sembahyang setiap
waktu dari subuh hingga subuh lagi , memanjatkan do’a-do’a lama sekali , tapi
tak juga merubah perilaku jahatnya , sama sekali tak bisa disanak, diingatkan,
tak bisa di dekati apalagi kok diajak ngobrol , ya susah sekali , bahkan yang
bikin jengkel itu adalah tidak bisa diajak ngobrol.gengsinya sebagai orang paling waras dan normal masih no . satu sehingga nggak mau kalah,
apalagi kok kenal. Kata mereka Waktu hidupku sudah habis untuk leha-leha dan
lenggang-kangkung karena peri hidupnya terjamin dan dapat di andalkan.Sedangkan
mereka yang merasa hidupnya berjuang bekerja keras banting-tulang
peras-keringat setengah mati, kepala jadi kaki , kaki jadi kepala, sampai
sekarang setelah matipun merasa kebiasaannya ngantor dan bekerja
merangkai pikiran untuk mafia , dan saling menjegal, menjatuhkan martabat
pengikut alam arwah . Mau bepergian
susah sekali karena terikat kontrak
bekerja di suatu tempat sepanjang hayat, dunia serasa sama ,bumi yang sama,
langit yang sama, semua datar , tak ada tanjakan , dan tak ada turunan, semua
sama, mau bicara nggak bisa,mau diam saja salah tingkah, orang-orang di sekitar
yang dekat juga tidak ada yang kenal. Berbeda dengan keadaan arwah ibuku yang
sukanya pergi jalan-jalan ke kota mekkah , katanya itu di sebut ibadah haji,
menghabiskan uang untuk belanja belanja , menaikkan gengsi social, dan ngrumpi
selama berjam-jam, melakukan ritual itu
, semua serba denda dsan sangat memboroskan uang katanya Dam , paling paling
setelah pulang hanya mendapat gelar Hajjah saja . arwah ibuku berangkat haji sendirian dengan menjual kebun, sawah dan sapi-
bapak.sedangkan aku dianggap tidak pantas ikut menunaikan haji ,
karena perbuatanku lebih mirip bangsaat dari pada santri .ibuku suka hidup
berpetualang semasa hidupnya , ia pergi ke sawah-sawah lading-hutan mencari
kayu , mengumpulkan sampah-sampah daun untuk dibakar dan di jadikan pupuk,
katanya , dan diwaktu istirahat di rumah, ia suka ngrunpi membicarakan aku
anaknya sendiri , istriku , anakku,
dengan orang –orang sekeliling rumah, apa kebiasaannya itu dibawa –bawa sampai
luang-alam Arwah?
Disini aku malas
kenalan, kau tidak tahu orang seperti apa yang ada di sekitarku, aku terasing
disini, sendiri, bahasaku sendiri tak difahami orang , bahasaku tidak mumpuni
untuk ngrumpi seperti mereka, dengan bicara terbahak-bahak, terpingkal-pingkal
membicarakan orang lain . ada orang bule , kulit hitam, orang arab , orang cina
grumpung, semua asing bagiku, jadi males
bicara,” ujar ibuku . lalu apa yang dikerjakan sehari –hari ?”, tanyaku. Aku
sehari hari hanyalah nganggur , tiduran
sambil mendengarkan radio . uang uangan dolar yang kau kirimkan dari
Amerika dulu tidak laku disini, rumah
mewah dan makanan enak-enak yang kau kirimkan dari dunia dulu tidak enak
dimakan disini, warisan yang ditinggal ayahmu dulu sudah tak ada manfaatnya
lagi disini, semenjak aku menghuni alam arwah dan semenjak aku memasuki alam
Ghaib, semua sudah tidak ada lagi , semua tidak nyata , pekerjaan yang
dijanjikan dengan menyogok untuk jadi pegawe oleh Zubaer dulu juga malah
mengakibatkan pecahnya persaudaran,hancurnya sendi-sendi ahlak celaka berat,
mengakibatkan berdirinya tembok tinggi dan jurang yang teramat dalam rentang
jarak dan sakit hati. Kebun mangga yang
penuh buah dan harganya selangit dulu juga tak lagi ada manfaatnya, karena
harganya dan biaya perawatannya tidak sebanding,kjadang-kadang membusuk sendiri
di pohonya semua seperti mimpi,berlalu
begitu saja, tidak berbekas, semua hanya kenangan, semua terjadi terlalu
singkat, aku hanya merasakan sebentar, aku hanya sebentar sejenak tinggal
disitu,lalu kemudian pergi lagi tidak sampai setahun rasanya , aku
kesepiansekali, begitu kalian memasuki alam arwah. Memang waktu itu aku bangga
tinggal di rumah mewah itu, semula aku senang sekali tinggal dirumah itu, semua
perabot ada , pembantu ada , kebunnya luas dengan kolam ikan di depan rumah,
ada ayamnya di situ .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar